Senin, 26 Januari 2009

BANJARMASIN (PASAR TERAPUNG)


LATAR BELAKANG

Timbulnya dan perkembangan Pasar Terapung bermula dari berdirinya kerajaan-kerajaan besar di Kalimantan Selatan, dan berkaitan pula dengan sejarah berdirinya kota Banjarmasin.
Kawasan Pasar Terapung lokasinya pada mulanya tersebar antara Kuin Utara dan Kuin Cerucuk, hal ini ditandai dengan sejarah berdirinya kerajaan tepian Sungai Kuin dan Barito berdirinya kota Banjarmasin oleh Sultan Suriansyah pada tahun 1526 sebagai penguasa pertama yang memeluk agama Islam. Makamnya terletak di sebuah komplek pemakaman di kelurahan Kuin Utara, dimakam ini juga dimakamkan Raja Banjar ke-2 Sultan Rachmatullah dan Raja Banjar ke-3 Sultan Hidayatullah. Dimakamkan juga Khatib Dayan seorang ulama keturunan Arab yang diutus Sultan Trenggono (Raja Demak) untuk menglslamkan Sultan Suriansyah beserta rakyatnya. Sampai sekarang makam Sultan Suriansyah ramai dikunjungi oleh para penjiarah sebagai obyek wisata ziarah.

Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah shalat Subuh sampai selepas pukul 07:00 pagi. Matahari terbit memantulkan cahaya di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak-anak sungainya. Pasar Terapung Muara Kuin merupakan salah satu bentuk pola interaksi jual-beli masyarakat yang hidup di atas air.

Pasar terapung ini sudah ada lebih dari 400 tahun yang lalu, dan merupakan bukti aktivitas jual-beli manusia yang hidup di atas air. Dengan menyaksikan panoramanya, wisatawan seakan-akan sedang tamasya. Jukung-jukung dengan sarat muatan barang dagangan sayur-sayuran, buah-buahan, segala jenis ikan dan berbagai kebutuhan rumah tangga tersedia di pasar terapung. Ketika matahari mulai muncul berangsur-angsur pasar pun mulai menyepi, sang pedagang pun mulai beranjak meninggalkan pasar terapung membawa hasil yang diperoleh dengan kepuasan.

Suasana pasar terapung yang unik dan khas adalah berdesak-desakan antara perahu besar dan kecil saling mencari pembeli dan penjual yang selalu berseliweran kian kemari dan selalu oleng dimainkan gelombang sungai Barito. Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pada pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung atau pembagian pedagang bersarkan barang dagangan.
Para pedagang wanita yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri atau tetangganya disebut dukuh, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk, sesuatu yang unik dan langka.

Obyek wisata ini sering dianggap sebagai daya tarik yang fantastik, Banjarmasin bagaikan Venesia di Timur Dunia, karena keduanya memiliki potensi wisata sungai. Namun kedua kota berbeda alam dan latar belakang budayanya. Di Banjarmasin masih banyak ditemui di sepanjang sungai rumah-rumah terapung yang disebut rumah lanting, yang selalu oleng dimainkan gelombang.

Daerah Kuin merupakan tipe permukiman yang berada di sepanjang aliran sungai (waterfront village) yang memiliki beberapa daya tarik pariwisata, baik berupa wisata alam, wisata budaya maupun wisata budaya. Kehidupan masyarakatnya erat dengan kehidupan sungai seperti pasar terapung, perkampungan tepian sungai dengan arsitektur tradisionalnya. Hilir mudiknya aneka perahu tradisional dengan beraneka muatan merupakan atraksi yang menarik bagi wisatawan, bahkan diharapkan dapat dikembangkan menjadi desa wisata sehingga dapat menjadi pembentuk citra dalam promosi kepariwisataan Kalimantan Selatan. Masih di kawasan yang sama wisatawan dapat pula mengunjungi Masjid Sultan Suriansyah dan Komplek Makam Sultan Suriansyah, pulau Kembang, pulau Kaget dan pulau Bakut. Di Kuin juga terdapat kerajinan ukiran untuk ornamen rumah Banjar.

Jika berangkat dari pusat kota Banjarmasin dengan menggunakan perahu mesin atau yang biasa disebut klotok, diperlukan waktu sekitan 45 menit untuk menuju pasar yang berada di aliran Sungai Barito tersbut. Jika ingin lebih cepat sampai, pengunjung dapat menggunakan angkutan darat dengan menempuh rute kota Banjarmasin-desa Allak. Dari desa Alalak menuju lokasi Pasar Terapung yang jaraknya tidak begitu jauh pengunjunga bisa mencarter klotok dengan harga Rp 70.000,- (tergantung bisa tidaknya pencarter melakukan tawar menawar). Kalau tidak bisa nawar bisa dimahalin (‘dilarangi wan urang sana’) wehehe.. Kalau bisa sih nawarnya juga pake bahasa banjar jua, pandiri aja.”wah jangan kalarangan pang, urang sini jua!’ (hehehe…itu kalau mamaku yang bepandir). Dengan menyewa klotok, pengunjung tidak hanya bisa menyaksikan aktivitas di floating market tetapi juga bakal diajak berwisata ke pulau kembang.

Suasana pasar terapung juga dapat kita jumpai di aliran Sungai Martapura tepatnya di pesisir Desa Lokbaintan, Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Para pedagangnya berasal dari berbagai anak Sungai Martapura, seperti Sungai Lenge, Sungai Bakung, Sungai Paku Alam, Sungai Saka Bunut, Sungai Madang, Sungai Tanifah, dan Sungai Lok Baintan.

(Diambil dari beberapa sumber :www.indosiar.com; www.banjarmasin.go.id; http://id.wikipedia.org/; http://banjarmasinpost.co.id)

BANJARMASIN (PASAR TERAPUNG) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Mel_anie

4 komentar:

  1. kayaknya seru tuh naek perahu gt yaa..

    hahaha..

    di Bandung gak ada seh..

    keep share

    BalasHapus
  2. ini adalah contoh negara maritim, yang patut kita banggakan sebagai masyrakat indonesia

    BalasHapus
  3. Pasar aja bisa jadi objek pariwisata ya. ;) Sebenarnya paket wisata Kuin masih ada satu lagi selain pasar terapung,yaitu Pulau Kembang.Gak kalah bagus lho itu. ;)

    BalasHapus
  4. Mudah - mudahan generasi yang akan dapat menikmati juga yeah...ll
    Walau pun mulai ber saing Sama mall

    BalasHapus